Morning Sedulur, 

Sabtu lalu (14/09), aku mengajak anak-anak ke Festival Kota Lama Semarang. Festival dengan tagline Heritage in Diversity ini diadakan setiap tahun dan tentu saja berlokasi di Kota Lama, Semarang. Festival ini sudah berlangsung sejak 2012 dengan tema besar Kuno Kini Nanti.

Untungnya, tahun ini aku sempat mengunjungi festival yang berlangsung 5-15 September ini. Festival ini ternyata banyak mengundang minat wisatawan lokal dan asing untuk berkunjung ke Kota Lama.  

Baca Juga: Pasar Antik Klitikan di Kota Lama

Nostalgia Zaman Dulu di Festival Kota Lama Semarang 2024

Sabtu sore, aku dan anak-anak naik Bus Trans Semarang dari Ungaran ke Kota Lama. Hanya butuh satu kali naik bus BRT tanpa transit lho. Kami turun di halte BRT Kota Lama, tak jauh dari Stasiun Tawang. Kami menyeberang di depan Museum Kota Lama dan langsung disambut meriahnya sore hari di depan Gereja Blenduk yang berlokasi di Jalan Letjen Suprapto, Kota Lama.

Baca Juga: Sei Ramen Kota Lama 

Jalan ini adalah pusatnya Kota Lama. Tempat keramaian berada. Sudah lama tak mampir ke Kota Lama, halte BRT yang tak jauh dari Gereja Blenduk sudah tak ada, hiks. Jadi, kalau mau naik Bus BRT harus jalan kaki agak jauh ke Halte Kota Lama tempatku turun tadi.

Ternyata, Gereja Blenduk sedang ada perbaikan hingga konstruksi bambu memenuhi kubahnya. Suasananya mengingatkanku pada Malioboro, entah mengapa. Kecuali, jalanan di Kota Lama lebih estetik karena gedung-gedung tuanya yang jadi cagar budaya nampak memesona.

Nostalgia Zaman Dulu di Festival Kota Lama Semarang 2024

Puluhan bahkan ratusan orang berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kecil di Kota Lama. Turis asing pun lalu-lalang. Ada yang duduk bercengkrama di Taman Srigunting. Berfoto-foto di depan Gedung Marba. Ada pula yang menyewa kebaya Jawa untuk berfoto ria hanya Rp5000 saja, murah meriah kan?

Gedung-gedung peninggalan zaman Belanda yang sudah dipugar masih menampakkan wajah aslinya dalam versi yang lebih bersih dan rapi. Sepanjang jalan bisa ditemui rumah makan seperti warung sate kambing, restoran Ikan Bakar Cianjur, serta kedai-kedai kopi di dalam bangunan eksotik. Bahkan minimarketnya pun unik karena berada di gedung peninggalan zaman Belanda.

Nostalgia Zaman Dulu di Festival Kota Lama Semarang 2024

Nostalgia Zaman Dulu di Festival Kota Lama Semarang 2024

Kami memasuki Gedung Oudetrap yang sudah dipugar menjadi cantik. Dulunya, gedung ini adalah gudang rempah di masa lalu. Lalu, sempat terlantar dan nyaris rusak. Kini, gedungnya sering digunakan untuk berbagai acara seperti pameran, pementasan dan banyak lagi.

Kami masuk ke Gedung Oudetrap untuk melihat pameran Pikat Wastra Nusantara yang diresmikan Pak Sandiaga Uno. Aku tertarik banget melihat blus dan gaun batik dan kain tradisional lainnya karya perancang busana kawakan, Samuel Wattimena. 

Baca Juga: Semarang Art Gallery

Nostalgia Zaman Dulu di Festival Kota Lama Semarang 2024

Nostalgia Zaman Dulu di Festival Kota Lama Semarang 2024

Nostalgia Zaman Dulu di Festival Kota Lama Semarang 2024

Selain itu, ada pula berbagai jenis kain batik, blus, hingga tas-tas dari kain batik yang memikat produksi berbagai UMKM di Jateng. Tampil pula, baju-baju karya perancang muda dari Sekolah Susan Budiharjo. Sayangnya, nggak sempat nonton fashion shownya hari Rabu lalu.

Setelah itu, Alde berfoto ria di Taman Srigunting, dia sedang belajar memotret. Kami melewati seorang kakek pemain saksofon. Di dekatnya ada tempat saksofon berisi uang dari penonton. Wah, berasa di Eropa ini, hehe. Alunan saksofonnya memeriahkan suasana sore itu.

Nostalgia Zaman Dulu di Festival Kota Lama Semarang 2024

Nostalgia Zaman Dulu di Festival Kota Lama Semarang 2024

Kami terus berjalan dan memasuki Pasar Sentiling. Pasar ini berisi gerai-gerai dari restoran, rumah makan dan warung legendaris di Semarang dan sekitarnya. Pasar ini adalah bagian dari festival Kota Lama yang ditunggu-tunggu masyarakat karena aneka kulinernya penuh nostalgia dan legendaris.

Sebut saja Toko Oen Semarang yang menjual aneka kue jadul. Terus, ada gerai Bebek Sinjay Madura, Empal Gentong dan Tahu Gejrot Mang Darma, hingga Kentang Lumpur Panggang dan Jeniper, Jeruk Nipis Serai yang nikmat. Bikin bingung deh pilihnya mau makan dan minum apa saking banyak pilihannya.

Nostalgia Zaman Dulu di Festival Kota Lama Semarang 2024

Sayangnya, metode pembayarannya hanya bisa dengan QRIS, untuk tunai bisa top up kartu di kasir. Sedangkan gesek kartu debet tidak bisa. Huhu, pilu deh karena saat itu aku nggak bawa ponselku yang ada QRIS. Uang tunai pun terbatas karena aku bawa kartu debet, wkwkw.

Setelah puas keliling Pasar Sentiling, aku makan di ayam bakar dekat Gelato Matteo, hihi, Harganya terjangkau dengan uang tunai ngepas yang kubawa, wkwkw. Sebelumnya, tanya dulu harganya takut duitku nggak cukup. Haha. Habis makan, baru deh tarik tunai di minimarket, hihi.

Nostalgia Zaman Dulu di Festival Kota Lama Semarang 2024

Kami salat magrib di musala Polsek di seberang rumah makan ayam bakar. Anak-anak kutawari gelato menolak karena masih kenyang. Ternyata, jalanan ini ditutup setelah Magrib, malam minggu jadi kita bisa jalan kaki dengan nyaman tanpa takut tertabrak motor.

Kami lalu berjalan kaki kembali ke Gereja Blenduk. Kerumunan orang makin ramai. Hati-hati dengan ponsel dan barang bawaanmu ya. Ada banyak fotografer menawarkan berfoto di berbagai sudut Kota Lama. Sebagai turis lokal dari Ungaran, kami pun berfoto. Hasilnya cakep juga, hihi.

Kami lalu mampir panggung Folklore yang malam itu menampilkan tari-tarian khas Nias. Ada atraksi lompat batu yang unik dari Komunitas Nias. Pertunjukannya cukup menegangkan karena penari lelaki bergantian melompati batu, bahkan ada yang mengajak penonton untuk berbaring diatas batu dan dilompati berkali-kali. Seram! Acara Folklore ini berlangsung tiap malam selama festival dan meriah penontonnya. Selain pertunjukan seni dan budaya, ada berbagai lomba selama festival seperti lomba foto. Sayangnya, festival ini sudah selesai kemarin. Jika kalian terlewat kemeriahannya, jangan lupa berkunjung ke Festival Kota Lama Semarang tahun depan, ya!